Cari Blog Ini

Jumat, 21 Januari 2011

NATIONAL Basketball League (NBL) Indonesia yang baru melangsungkan dua seri (seri I di Surabaya dan seri II di Bandung) dari lima seri yang akan digelar menjadi awal keterpurukan tim Garuda Flexi Bandung. Pada musim kompetisi NBL kali ini (sebelumnya IBL), Garuda yang ditangani pelatih Johannis Winar tak mampu menunjukkan keperkasaannya sebagai salah satu tim favorit juara.
Pada seri pertama di Surabaya (16-24 Oktober), Garuda hanya bisa dua kali menang melawan tim yang kurang diperhitungkan musim ini, seperti Muba Hangtuah IM Sumsel (61-58) dan Bimasakti Nikko Steel Malang (75-38). Melawan tim yang kualitasnya sama. Garuda dibuat tidak berkutik. Garuda dikalahkan Nuvo CLS Knights Surabaya (43-74). Pelita Jaya Esia Jakarta (57-68), dan Satria Muda Britama Jakarta (64-70).
Keterpurukan seri pertama temyata berlanjut ke seri II, 20-28 November di Bandung. Meski bermain di C-Tra Arena yang sesak oleh pendukungnya sendiri, Garuda tetap tak kunjung menunjukkan kualitasnya.
Tumbang pada dua laga pertama melawan Pelita Jaya (74-78) dan tim papan tengah Stadium Jakarta (43-48) membuat posisi Garuda sebagai tim unggulan mulai pudar. Meski pada dua laga berikutnya sempat menang atas Muba Hangtuah (63-36) dan Satya Wacana Angsapura Salatiga (79-40), keterpurukan Garuda belum bisa terobati dan justru semakin parah dengan kekalahan besar dari Dell Aspac (58-72) dan SM Britama (41-64).
Garuda sempat memberikan sedikit hiburan pada laga terakhir dengan menaklukkan Comfort Mobile Citra Satria Jakarta, 63-55. Hasil pada dua seri tersebut menempatkan Garuda di posisi kelima klasemen dengan nilai 17 dari 12 kah bertanding.
Buruknya bentuk permainan Denny Sumargo dan kawan-kawan dengan torehan tiga kali menang dan empat kali kalah di kandang sendiri serta dua kemenangan dari lima laga seri pertama tetap tak mampu mengobati kekecewaan para pendukungnya.
Tidak lagi diperkuat Kelly Purwanto dan Mario Wuysang yang hijrah ke tim lain ditambah belum maksimalnya Denny Sumargo dkk. menjadi celah bagi lawan untuk mengungguli tim kebanggaan Kota Bandung tersebut. Garuda yang dihuni para pemain berkualitas terlihat kurang padu dalam berta-han ataupun menyerang.
Ketidakseimbangan bentuk permainan Garuda terlihat jelas selama pertandingan seri II. Poin guard Wendha Wijaya ataupun Teddy Febyanto sebagai pengatur serangan sering terlihat kebingungan mengarahkan bola dan kehilangan momentum serangan. Ujung-ujungnya penampilan Garuda didominasi permainan individual dan bukan lagi mengusung kerja sama tim yang solid.
Johannis Winar melihat masalah serius Garuda terletak pada bentuk pertahanan yang Tenggang dan mudah diterobos. Kekurangan tersebut berpadu dengan bentuk serangan yang terburu-buru dan ketidaktenangan tim dalam pertandingan. Kondisi itu terlihat jelas saat Garuda bertanding dengan lawan yang memiliki level sama.
"Kami tidak bisa tampil lepas. Akibatnya pertahanan kurang disiplin dan sering melakukan kesalahan. Ditambah lagi penyerangan yang terburu-buru dan akurasi buruk. Tim sering jadi buntu dalam melakukan serangan," kata Johannis yang akrab disapa Ahang itu.nuli
Di mata sebagian besar penonton, keterpurukan Garuda selama ini tidak lepas dari peran pelatih. Kurangnya motivasi dan kepemimpinan yang tepat dalam tim membuat kredibilitas Johannis yang sempat membawa Garuda menjuarai Piala Gubernur DK] 2010 memudar. Dia dinilai masih kurang pintar memberikan dorongan semangat dan meracik strategi tim. Kondisi tersebut terlihat dari kualitas Garuda yang jeblok sejak preseason hingga seri II di Bandung.
Namun, munculnya penilaian itu tidak serta-merta membuat manajemen Garuda mempertimbangkan untuk menggeser Johannis dari kursi pelatih kepala. Untuk menutupi kelemahan tim, manajemen berencana menambah satu asisten pelatih yang diharapkan mampu menjadi partner yang baik bagi Ahang dan para pemain.
"Kami harus melakukan evaluasi secara menyeluruh. Kami memang perlu melakukan perubahan dalam tim seperti menambah asisten pelatih atau pemain. Pergantian pelatih rasanya bukan solusi utama bagi tim saat ini," ujar Mana-jer Garuda, Simon Daniel Pasaribu.
Di sisi lain Simon berharap para pemain lebih solid dan bermain lepas di setiap pertandingan. "Kita harus tunjukkan mental tim yang bagus dan kompak. Tidak perlu tergantung kepada satu orang karena ini adalah olah raga tim bukan perseorangan," ujarnya.
Menurut Simon, para pemain harus malu dengan hasil minor di kandang sendiri. "Kami memohon maaf kepada masyarakat Bandung. Keinginan kami untuk mempersembahkan banyak kemenangan belum kesampaian," kata Simon yang sekaligus merefleksikan penyesalan tim.
Pada seri berikutnya di Solo, n-19 Desember, Garuda berjanji akan memperbaiki permainannya untuk kembali bangkit sebagai tim yang layak diunggulkan. "Kami akan perbaiki setiap kesalahan pada seri berikutnya untuk merealisasikan target masuk play-off," kata Ahang.
Kita harapkan saja satu-satunya tim asal kota kembang itu bisa bangkit dan membuktikan diri kembali sebagai tim kandidat juara NBL 2010. (P-o6)*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar